VieDayCute.blogspot.com

RSS
Container Icon


RUANG LINGKUP BIMBNGAN DAN PENYULUHAN

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Kemajuan dalam berfikir dan kesadaran manusia akan diri dan dunianya, telah mendorong terjadinya globalisasi. Situasi global membuat kehidupan semakin kompetitif dan membuka peluang bagi manusia untuk mencapai status dan tingkat kehidupan yang lebih baik. Dampak positif dari kondisi global telah mendorong manusia untuk terus berpikir, meningkatkan kemampuan, dan tidak puas terhadap apa yang dicapainya pada saat ini.
Untuk menangkal dan mengatasi masalah tersebut perlu disiapkan insan dan sumber daya manusia Indonesia yang bermutu. Manusia Indonesia yang bermutu, yaitu manusia yang harmonis lahir dan batin, sehat jasmani dan rohani, bermoral, menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi secara profesional, serta dinamis dan kreatif. Maka dari itu diperlukan Bimbingan dan konseling.
Bimbingan penyuluhan atau biasa dikenal dengan bimbingan konseling merupakan pelayanan bantuan untuk peserta didik baik secara perorangan maupun kelompok, agar  mandiri dan berkembang secara optimal, dalam bimbingan pribadi, bimbingan social, bimbingan dalam belajar, dan dalam karir, melalui berbagai jenis layanan dan kegiatan pendukung, berdasarkan norma-norma yang berlaku.
Bimbingan dan konseling merupakan upaya proaktif dan sistematik dalam memfasilitasi individu mencapai tingkat perkembangan yang optimal, pengembangan perilaku yang efektif, pengembangan lingkungan, dan peningkatan fungsi atau manfaat individu dalam lingkungannya. Semua perubahan perilaku tersebut merupakan proses perkembangan individu, yakni proses interaksi antara individu dengan lingkungan melalui interaksi yang sehat dan produktif. Bimbingan dan konseling memegang tugas dan tanggung jawab yang penting untuk mengembangkan lingkungan, membangun interaksi dinamis antara individu dengan lingkungan, membelajarkan individu untuk mengembangkan, merubah dan memperbaiki perilaku.
Dalam bimbingan konseling terdapat tujuan, fungsi juga prinsip-prinsip yang harus dipenuhi dalam pelaksanaannya, juga terdapat beberapa jenis bimbingan, sebagai calon pendidik sudah seharusnya mengetahui semua itu, maka penyusun makalah berusaha memaparkan secara jelas bagaimana tentang bimbingan konseling atau yang juga kadang disebut dengan istilah bimbingan penyuluhan.
1.2.  Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas yang telah kami paparkan, kami merumuskan beberapa masalah, yaitu:
1.2.1 Sebutkan Lima definisi tentang konsep dasar bimbingan menurut para ahli?
1.2.2 Jelaskan fungsi bimbingan?
1.2.3 Jelaskan tujuan bimbingan?
1.2.4 Jelaskan jenis-jenis bimbingan?
1.2.5 Jelaskan prinsip bimbingan?
1.2.6 Beberapa jenis layanan dalam masyarakat?
1.1.  Tujuan
Berdasarkan rumusan masalah di atas, kami memiliki tujuan dalam pemembahas ini, yaitu:
1.1.1.    Mengetahui Lima definisi tentang konsep dasar bimbingan menurut para ahli
1.1.2.    Mengetahui  fungsi bimbingan
1.1.3.    Mengetahui  tujuan bimbingan
1.1.4.    Mengetahui jenis-jenis bimbingan
1.1.5.    Mengetahui prinsip bimbingan
1.1.6.    Mengetahui jenis layanan dalam masyarakat

BAB II
PEMBAHASAN
2.2.1          Lima definisi tentang konsep dasar bimbingan menurut para ahli
Bimbingan menurut para ahli:
1.     Stoop dan walquits mendefinisikan bimbingan adalah: proses yang terus-menerus dalam membantu perkembangan individu untuk mencapai kemampuannya secara maksimum dalam mengarahkan manfaat yang sebesar-besarnya baik bagi dirinya maupun masyarakat. (Jamal Makmur Asmani. 2010: 32)
2.     Dr. Syaiful sagala (2009) bimbingan dapat diartikan sebagai bantuan dalam bentuk bimbingan. (Ibid. 2010: 39)
3.     Tolber bimbingan adalah seluruh program atau semua kegiatan dan layanan dalam lembaga pendidikan yang diarahkan pada membantu individu agar mereka dapat menyusun dan melaksanakan rencana serta melakukan penyesuaian diri dalam semua aspek kehidupannya sehari-hari. (Fenti Hikmawati. 2011: 1)
4.     Menurut Abu Ahmadi (1991: 1), bahwa bimbingan adalah bantuan yang diberikan kepada individu (peserta didik) agar dengan potensi yang dimiliki mampu mengembangkan diri secara optimal dengan jalan memahami diri, memahami lingkungan, mengatasi hambatan guna menentukan rencana masa depan yang lebih baik. Hal senada juga dikemukakan oleh Prayitno dan Erman Amti (2004: 99), Bimbingan adalah proses pemberian bantuan yang dilakukan oleh orang yang ahli kepada seseorang atau beberapa orang individu, baik anak-anak, remaja, atau orang dewasa; agar orang yang dibimbing dapat mengembangkan kemampuan dirinya sendiri dan mandiri dengan memanfaatkan kekuatan individu dan sarana yang ada dan dapat dikembangkan berdasarkan norma-norma yang berlaku.
5.     Sementara Bimo Walgito (2004: 4-5), mendefinisikan bahwa bimbingan adalah bantuan atau pertolongan yang diberikan kepada individu atau sekumpulan individu dalam menghindari atau mengatasi kesulitan-kesulitan hidupnya, agar individu dapat mencapai kesejahteraan dalam kehidupannya. Chiskolm dalam McDaniel, dalam Prayitno dan Erman Amti (1994: 94), mengungkapkan bahwa bimbingan diadakan dalam rangka membantu setiap individu untuk lebih mengenali berbagai informasi tentang dirinya sendiri.
2.2.2          Fungsi Bimbingan
·       Fungsi Pemahaman, yaitu fungsi bimbingan dan konseling membantu konseli agar memiliki pemahaman terhadap dirinya (potensinya) dan lingkungannya (pendidikan, pekerjaan, dan norma agama). Berdasarkan pemahaman ini, konseli diharapkan mampu mengembangkan potensi dirinya secara optimal, dan menyesuaikan dirinya dengan lingkungan secara dinamis dan konstruktif.
·       Fungsi Preventif, yaitu fungsi yang berkaitan dengan upaya konselor untuk senantiasa mengantisipasi berbagai masalah yang mungkin terjadi dan berupaya untuk mencegahnya, supaya tidak dialami oleh konseli. Melalui fungsi ini, konselor memberikan bimbingan kepada konseli tentang cara menghindarkan diri dari perbuatan atau kegiatan yang membahayakan dirinya.
·       Fungsi Pengembangan, yaitu fungsi bimbingan dan konseling yang sifatnya lebih proaktif dari fungsi-fungsi lainnya. Konselor senantiasa berupaya untuk menciptakan lingkungan belajar yang kondusif, yang memfasilitasi perkembangan konseli. Konselor dan personel Sekolah/Madrasah lainnya secara sinergi sebagai teamwork berkolaborasi atau bekerjasama merencanakan dan melaksanakan program bimbingan secara sistematis dan berkesinambungan dalam upaya membantu konseli mencapai tugas-tugas perkembangannya. Teknik bimbingan yang dapat digunakan disini adalah pelayanan informasi, tutorial, diskusi kelompok atau curah pendapat (brain storming), home room, dan karyawisata.
·       Fungsi Penyembuhan, yaitu fungsi bimbingan dan konseling yang bersifat kuratif. Fungsi ini berkaitan erat dengan upaya pemberian bantuan kepada konseli yang telah mengalami masalah, baik menyangkut aspek pribadi, sosial, belajar, maupun karir. Teknik yang dapat digunakan adalah konseling, dan remedial teaching.
·       Fungsi Penyaluran, yaitu fungsi bimbingan dan konseling dalam membantu konseli memilih kegiatan ekstrakurikuler, jurusan atau program studi, dan memantapkan penguasaan karir atau jabatan yang sesuai dengan minat, bakat, keahlian dan ciri-ciri kepribadian lainnya. Dalam melaksanakan fungsi ini, konselor perlu bekerja sama dengan pendidik lainnya di dalam maupun di luar lembaga pendidikan.
·       Fungsi Adaptasi, yaitu fungsi membantu para pelaksana pendidikan, kepala Sekolah/Madrasah dan staf, konselor, dan guru untuk menyesuaikan program pendidikan terhadap latar belakang pendidikan, minat, kemampuan, dan kebutuhan konseli. Dengan menggunakan informasi yang memadai mengenai konseli, pembimbing/konselor dapat membantu para guru dalam memperlakukan konseli secara tepat, baik dalam memilih dan menyusun materi Sekolah/Madrasah, memilih metode dan proses pembelajaran, maupun menyusun bahan pelajaran sesuai dengan kemampuan dan kecepatan konseli.
·       Fungsi Penyesuaian, yaitu fungsi bimbingan dan konseling dalam membantu konseli agar dapat menyesuaikan diri dengan diri dan lingkungannya secara dinamis dan konstruktif.
·       Fungsi Perbaikan, yaitu fungsi bimbingan dan konseling untuk membantu konseli sehingga dapat memperbaiki kekeliruan dalam berfikir, berperasaan dan bertindak (berkehendak). Konselor melakukan intervensi (memberikan perlakuan) terhadap konseli supaya memiliki pola berfikir yang sehat, rasional dan memiliki perasaan yang tepat sehingga dapat mengantarkan mereka kepada tindakan atau kehendak yang produktif dan normatif.
·       Fungsi Fasilitasi, memberikan kemudahan kepada konseli dalam mencapai pertumbuhan dan perkembangan yang optimal, serasi, selaras dan seimbang seluruh aspek dalam diri konseli.
·       Fungsi Pemeliharaan, yaitu fungsi bimbingan dan konseling untuk membantu konseli supaya dapat menjaga diri dan mempertahankan situasi kondusif yang telah tercipta dalam dirinya. Fungsi ini memfasilitasi konseli agar terhindar dari kondisi-kondisi yang akan menyebabkan penurunan produktivitas diri. Pelaksanaan fungsi ini diwujudkan melalui program-program yang menarik, rekreatif dan fakultatif (pilihan) sesuai dengan minat konseli. (Jamal M. A. 2010: 60-64)
2.2.3.         Tujuan Bimbingan
a.       Merencanakan kegiatan penyelesaian study, perkembangan karier, serta kehidupannya pada masa yang akan datang
b.       Mengembangkan seluruh potensi dan kekuatan yang dimilikinya seoptimal mungkin
c.        Menyesuaikan diri dengan lingkungan pendidikan, lingkungan masyarakat, serta lingkungan kerjanya.
d.       Mengatasi hambatan serta kesulitan yang dihadapi dalam study, penyesuaian dengan lingkungan pendidikan, masyarakat, ataupun lingkungan kerja.
Untuk mencapai tujuan tersebut, maka mereka harus mendapatkan kesempatan untuk :
a.     Mengenal dan memahami potensi, kekuatan serta tugas-tugasnya
b.     Mengenal dan memahami potensi-potensi yang ada di lingkungannya
c.     Mengenal dan menentukan tujuan, rencana hidupnya serta rencana pencapaian tujuan tersebut
d.     Memahami dan mengatasi kesulitan-kesulitan sendiri
e.     Menggunakan kemampuannya untuk kepentingan dirinya, lembaga tempat bekerja dan masyarakat
f.      Menyesuaikan diri dengan keadaan dan tuntutan dari lingkungan
g.     Mengembangkan segala potensi dan kekuatan yang dimilikinya secara tepat, teratur dan optimal. (A. Juntika Nurihasan. 2007: 8)
2.2.4.         Jenis-Jenis Bimbingan
Untuk mengetahui jenis-jenis bimbingan, perlu dipelajari terlebih dahulu tentang masalah-masalah yang dihadapi individu. Sehingga dengan mengenal masalah-masalah yang dihadapi individu, akan memudahkan untuk menentukan jenis bimbingan mana yang tepat untuk memecahkan masalah-masalah tersebut. (Mulyadi. 2010: 103)
Adapun Jenis-jenis bimbingan dan konseling adalah:
1.     Bimbingan Studi/ Akademik (Academic Guidance)
Bimbingan akademik ialah bimbingan dalam hal menemukan cara belajar yang tepat, dalam memilih program studi yang sesuai, dan dalam mengatasi kesukaran-kesukaran yang timbul berkaitan dengan tuntutan-tuntutan belajar di suatu institut pendidikan. Suatu program bimbingan di bidang belajar (akademik) akan memuat unsur-unsur sebagai berikut:
1.     Orientasi kepada siswa baru tentang tujuan institusional, isi kurikulum, pengajaran, struktur organisasi sekolah, cara-cara belajar yang tepat.
2.     Penyadaran kembali secara berkala tentang cara belajar yang tepat selama mengikuti pelajaran di sekolah dan selama belajar di rumah, baik secara individu maupun secara kelompok.
3.     Bantuan dalam hal memilih program studi yang sesuai, memilih kegiatan-kegiatan non-akademik yang menunjang usaha belajar, dan memilih program studi lanjutan di tingkat pendidikan yang lebih tinggi, dan lain-lain.
Tujuan Bimbingan Akademik diantaranya: 
a.     Memiliki sikap dan kebiasaan belajar yang positif.
b.     Memiliki motivasi yang tinggi untuk belajar sepanjang hayat 
c.     Memiliki keterampilan belajar yang efektif. 
d.     Memiliki keterampilan untuk menetapkan tujuan dan perencanaan belajar/pendidikan.
e.     Memiliki kesiapan mental dan kemampuan untuk menghadapi ujian.
f.      Memiliki keterampilan membaca buku. 
2.     Bimbingan Karir
Bimbingan karir merupakan salah satu jenis bimbingan yang berusaha membantu individu dalam memecahkan masalah karir untuk memperoleh penyesuaian diri yang sebaik-baiknya, baik pada waktu itu maupun pada masa yang akan datang.
Bimbingan karir bukan hanya memberikan bimbingan jabatan, tetapi mempunyai arti yang lebih luas, yaitu bimbingan agar seseorang dapat memasuki kehidupan, tata hidup dan kejadian dalam kehidupan, dan mempersiapkan diri dari kehidupan sekolah ke dunia kerja.
Di samping itu, bimbingan jabatan memiliki kisaran usaha bimbingan kepada peserta didik dalam jasa pertimbangan akan bekerja atau tidak, dan jika perlu segera bekerja, baik part-time maupun full-time, memiliki lapangan kerja yang cocok dengan ciri-ciri pribadi, individu menentukan lapangan pekerjaan dan memasukinya serta mengadakan penyesuaian kerja secara baik.
Berdasarkan uraian di atas, jelaslah bahwa bimbingan karir merupakan suatu program yang disusun untuk membantu perkembangan peserta didik agar mengerti akan dirinya, mempelajari dunia kerja untuk mendapatkan pengalaman yang akan membantu dalam membuat keputusan dan mendapatkan pekerjaan.
Tujuan Bimbingan Karier diantaranya: 
1.     Memiliki pemahaman tentang sekolah-sekolah lanjutan. 
2.     Memiliki pemahaman bahwa studi merupakan investasi untuk meraih masa depan. 
3.     Memiliki pemahaman tentang kaitan belajar dengan bekerja.
4.     Memiliki pemahaman tentang minat dan kemampuan diri yang terkait dengan pekerjaan. 
5.     Memiliki kemampuan untuk membentuk identitas karir. 
6.     Memiliki sikap positif terhadap pekerjaan.
7.     Memiliki sikap optimis dalam menghadapi masa depan.
8.     Memiliki kemauan untuk meningkatkan kemampuan yang terkait dengan pekerjaan. (Ruslan A. Gani. 1987: 10-12)
3.     Bimbingan Pekerjaan atau Jabatan (Vocational Guidance)
Bimbingan pekerjaan atau jabatan bertujuan untuk membantu murid-murid dalam mengatasi masalah-masalah yang berhubungan dengan pemilihan pekerjaan atau jabatan.
Kegiatan dalam bimbingan pekerjaan meliputi antara lain:
a)         Mengenalkan berbagai jenis pendidikan atau latihan tertentu untuk jenis pekerjaan tertentu.
b)         Mengenalkan berbagai jenis pekerjaan yang mungkin dapat dimasuki oleh tamatan pendidikan tertentu.
c)          Mengenalkan berbagai jenis pekerjaan dengan segala syarat-syarat dan kondisinya.
d)         Membantu memperoleh suatu pekerjaan atau pekerjaan sambilan bagi siapa yang membutuhkannya sesuai dengan kemampuan dirinya.
e)          Membantu memperoleh penyesuaian diri yang sebaik-baiknya dalam lapangan pekerjaan tertentu. (Mulyadi. 2010: 108-109)
2.2.5.         Prinsip-prinsip Bimbingan dan Penyuluhan
1.     Pengertian Prinsip-Prinsip Bimbingan dan Konseling
Prinsip yang berasal dari asal kata ” PRINSIPRA” yang artinya permulaan dengan satu cara tertentu melahirkan hal –hal lain, yang keberadaanya tergantung dari pemula itu, prisip ini merupakam hasil perpaduan antara kajian teoritik dan teori lapangan yang terarah yang digunakan sebagai pedoman-pedoman dalam pelaksanaan yang dimaksudkan. (Halaen,2002: 63 )
Prinsip bimbingan dan Konseling menguraikan tentang pokok – pokok dasar pemikiran yang dijadikan pedoman program pelaksanaan atau aturan main yang harus di ikuti dalam pelaksanaan program pelayanan bimbingan dan dapat juga dijadikan sebagai seperangkat landasan praktis atau aturan main yang harus diikuti dalam pelaksanaan program pelayanan bimbingan dan konseling di sekolah.
Prayitno mengatakan : ”Bahwa prinsip merupakan hasil kajian teoritik dan telaah lapangan yang digunakan sebagai pedoman pelaksanaan sesuatu yang dimaksudkan.” Jadi dari pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa prinsip – prinsip bimbingan dan konseling merupakan pemaduan hasil – hasil teori dan praktek yang dirumuskan dan dijadikan pedoman sekaligus dasar bagi peyelengaran pelayanan.
Yang mana prinsip tersebut berasal dari kajian filosofis, hasil penelitian dan pengalaman praktis tentang hakikat manusia, perkembangan dan kehidupan manusia dalam konteks social budayanya, pengertian, tujuan, fungsi, dan proses penyelenggaraan bimbingan dan konseling. Misalnya Van Hoose (1969) mengemukakan bahwa:
a.     Bimbingan didasarkan pada keyakinan bahwa dalam diri tiap anak terkandung kebaikan-kebaikan, mempunyai potensi dan pendidikan yang mampu membantu si anak memanfaatkan potensinya itu.
b.     Bimbingan didasarkan pada ide bahwa setiap anak adalah unik, seseorang anak berbeda dari yang lain.
c.     Bimbingan merupakan bantuan kepada anak-anak dan pemuda dalam pertumbuhan dan perkembangan mereka menjadi pribadi yang sehat.
d.     Bimbingan merupakan usaha untuk membantu mereka yang memerlukan.
e.     Bimbingan adalah pelayanan, unik yang dilaksanakan oleh tenaga ahli dengan latihan-latihan khusus.
2.     Macam – macam prinsip bimbingan dan konseling
Prayitno dkk, dalam bukunya yang berjudul “Seri Pemandu Pelaksanaan Bimbingan dan Konseling di Sekolah” (1997), menjelaskan konsep prinsip-prinsip bimbingan sebagai berikut:
1.     Prinsip yang berkenaan dengan sasaran layanan.
a)    Bimbingan dan konseling melayani semua individu tanpa memandang umur, jenis kelamin, suku, agama dan status sosial ekonomi.
b)    Bimbingan berurusan dengan pribadi dan tingkah laku individu yang unik dan dinamis.
c)     Bimbingan dan konseling yang memperhatikan sepenuhnya tahap-tahap dan berbagai aspek perkembangan individu.
d)    Bimbingan dan konseling memberikan perhatian utama pada perbedaan individu yang menjadi orientasi pokok pelayanannya.
2.     Prinsip yang berkenaan dengan permasalahan individu.
a)    Bimbingan dan konseling berurusan dengan hal-hal yang menyangkut pengaruh kondisi mental dan fisik individu terhadap penyesuaiannya di rumah, sekolah, serta kaitannya dengan kontak sosial dan pekerjaan dan sebaliknya pengaruh lingkungan terhadap kondisi mental dan fisik individu.
b)    Kesenjangan sosial, ekonomi, dan kebudayaannya merupakan faktor timbulnya masalah pada individu yang kesemuanya menjadi perhatian utama pelayanan bimbingan dan konseling.
3.     Prinsip yang berkenaan dengan program pelayanan.
a)    Bimbingan dan konseling merupakan bagian integral dari upaya pendidikan dan pengembangan individu, oleh karena itu program bimbingan dan konseling harus diselaraskan dengan program pendidikan.
b)    Program bimbingan dan konseling harus disesuaikan dengan kebutuhan individu, masyarakat dan kondisi lembaga.
c)     Program bimbingan dan konseling disusun secara berkelanjutan dari jenjang pendidikan yang paling rendah sampai tertinggi.
4.     Prinsip yang berkenaan dengan tujuan dan pelaksanaan pelayanan.
a)    Bimbingan dan konseling harus diarahkan untuk pengembangan individu yang akhirnya mampu membimbing diri sendiri.
b)    Dalam proses bimbingan dan konseling keputusan yang diambil yang selanjutnya dilakukan individu hendaknya atas kemauan sendiri, bukan paksaan dari pembimbinng/pihak lain.
c)     Permasalahan individu harus ditangani oleh tenaga ahli dalam bidang yang relevan dengan permasalahan yang dihadapi.
d)    Kerjasama antara guru pembimbing, guru-guru lain dan orang tua sangat menentukan hasil pelayanan bimbingan. (Farid Hasyim dan Mulyono. 2010: 78-80)
2.2.6.         Beberapa Bentuk Layanan Dalam Masyarakat
1.     Layanan Dasar Bimbingan
Layanan bimbingan yang bertujuan membantu para individu mengembangkan perilaku efektif dan keterampilan-keterampilan hidupnya yang mengacu pada tugas-tugas perkembangan. Misal membantu pemuda menjadi orang dewasa yang bahagia dan bertanggung jawab.
2.     Layanan Responsif
Layanan bimbingan yang bertujuan membantu memenuhi kebutuhan yang dirasakan sangat penting oleh individu saat ini. Misal membantu memilih pendidikan yang sesuai
3.     Layanan Perencanaan Individual
Layanan bimbingan yang  bertujuan membantu individu membuat dan mengimplementasikan rencana-rencana pendidikan,karier, dan sosial pribadinya. Misal bimbingan pelajaran dengan topik-topik belajar yang efektif.
4.     Dukungan Sistem
Kegiatan manajemen yang bertujua memantapkan, memelihara dan meningkatkan program bimbingan secara menyeluruh melalui pengembangan profesional.Misal hubungan masyarakat
5.     Layanan Pengumpulan Data
Pengumpulan data tentang individu beserta latar belakangnya dihimpun dan didokumentasikan untuk memahami potensi dan kekuatan serta masalah yang di hadapi individu.
6.     Layanan Informasi
Layanan memeberi informasi yang dibutuhkan individu. Agar individu memeiliki pengetahuan sehingga lebih mudah dalam membuat perencanaan dan mengambil keputusan. 
7.     Layanan Penempatan 
Layanan untuk membantu individu dalam memperoleh tempat bagi pengembangan potensi yang dimilikinya.
8.     Layanan Konseling
Layanan untuk membantu individu menyelesaikan masalah-masalah terutama masalah sosial-pribadi yang mereka hadapi.Bersifat pribadi anatara konseli dan konselor.
9.     Layanan Referal
Layanan melimpahkan masalah yang dihadapi individu kepada pihak lain yang lebih mampu dan berwenang.
10. Layanan Evaluasi dan Tindak Lanjut
Untuk menilai pelaksanaan dan keberhasilan layanan bimbingan yang diberikan. (A. Juntika. 2006: 17-20)
 
DAFTAR PUSTAKA

.Asmani , J. Ma’mur. Panduan Efektif Bimbingan Dan Konseling Di Sekolah . 2010 Jogjakarta: DIVA Press
Dewa Ketut Sukardi, Proses Bimbingan dan Penyuluhan, 1995.Jakarta: PT. Rineka Cipta
Hallen A., Bimbingan dan Konseling, 2002. Jakarta: Ciputat Pers
Hasyim, Farid. Bimbingan dan Konseling Religius. 2010. Malang: Ar-Ruzz Media
Hikmawati ,Fenti. Bimbingan Konseling Edisi Revisi.  2011 .Jakarta: PT. Raja Grafindi Persada
Juntika, Achmad. Bimbingan & Konseling. 2006.Bandung : PT. Refika Aditama
Mulyadi. Diagnosis Kesulitan Belajar dan Bimbingan terhadap Kesulitan Belajar Khusus, 2010. Yogyakarta: Nuha Litera
Priyatno, Ermananti, Dasar-Dasar Bimbingan dan Konseling, 1999. Jakarta: PT. Rineka Cipta.



  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Poskan Komentar